Boras Pihir

Boras Pihir

Tuesday, November 16, 2010

Semangat Puritanisme

FENOMENA PURITANISASI DALAM BINGKAI PLURALISME

By Sahman Purba, SIP

(Wakil Sekretaris Partuha Maujana Simalungun(PMS) DPC Kota Batam )

Ibarat Peribahasa Populer yang mengatakan seribu teman belum lah cukup, namun satu musuh saja sudah terlalu banyak. Sejatinya Manusia tercipta sebagai mahluk yang mutualis dengan yang lain, eksistensi dan sustainabilitasnya di muka bumi ini pun akan banyak dideterminasi oleh sejauh mana inter-relasi manusia atau kelompok manusia dengan sirkumstannsinya. Hal ini menjadi lebih menarik, apabila pemikiran dan diskusi ini kita alamatkan dalam konteksi masyarakat Indoensia yang memang hetero-pluralis. Mengapa tidak, disepanjang sabang hingga marauke, menurut sumber wikipedia, tidak kurang terdapat 520 jenis suku-suku (tribes) yang mendiami 34 propinsi negara ini . Kondisi geografis yang di dominasi 70% lautan dengan hamparan 13.000-an lebih pulau menjadikan adanya perilaku eksoduisisasi dari suku suku tertentu yang kemungkinan sudah memiliki kejenuhan populasi di puak-puaknya, untuk akhirnya ”invasi” ke lokalitas suku lainnya. Itu sebabnya, kita menemukan beberapa suku yang dewasa ini kita kenal dominan sebagai suku perantau dan bahkan sudah eksis di seluruh penjuru tanah air, seperti jawa, Toba, Minang, sunda. Proses inilah yang melahirkan corak dan komposisi komunitas yang pluralis tadi . Nyatanya, memang Identitas kesukuan di beberapa daerah didapati ternyata mampu lebih dominan dibanding indentitas agama sekalipun. Hal Ini dapat difahami mengingat memang agama datang belakangan menyusul, dimana adat istidat sudah lama tertanam.

Explorasi dalam Pluralitas

Ternyata, fenomena Puritanisme terhadap suku tertentu justru lebih aktif dilakukan oleh kelempok tertentu tersebut ketika eksistensinya justru berada di Lokalita suku yang lain alias di tanah rantau . Keadaannya tidak begitu ketika kelompok ini masih berada di lokalita puak originalitasnnya. van den Berghe,1976, menguak fenomena kekuatan leverasi indentitas ini. Ia Menulis ” ”ethnic identity is a powerfull phenomenonn. It is powerfull both at the affective level when it touches us in ways mysterius and frequently unconsciously and at the level of strategy, where consciously manipulate it” (Royce, 1982:1) “…to use ethnic identity and manuver within in one must perform adequately. That is display certain features and behaviour sucsesfully. At the same time, decision to chose ethnicity as a strategy is subjective one.” Berbekal stimulasi identitas ini, baik atas dasar sistem nilai maupun sistem makna yang dikembangkan, Kelompok ini kemudian melakukan eksplorasi kembali terhadap sistem nilai, tradisi, penggunaan bahasa hingga artefak yang dimilikinya, sesuatu yang sesungguhnya sudah mulai ditinggalkan atau minimal dibiarkan begitu saja, termasuk didaerah origin suku tersebut. Sebagai bentuknya, kita melihat inisiasi dan deklarasi terhadap kelompok-kelompok suku suku(tribal council) tertentu dengan berbagai output dan aktivitasnya baik melalui pagelaran pesta seni dan adat, seminar, hingga ke distribusi literatur adat-istiadat berupa buku, brosur hingga newsletter walaupun dalam format yang simple. Tujuan akhirnya, selain menjaga identitas kesukuan tetap terpelihara adalah adanya pengakuan (rekognisi) sebagai bagian dari anggota kelompok tertentu(public at large) . Walaupun memang , Apabila identitas dikembangkan dan dipertegas secara objektif-rigid, maka yang terjadi adalah justru primordialisme, fanatisme yang berujung kepada lahirnya model tampilan identitas yang justru tertutup(self contained). Oleh karenanya, lahir dan dikembangkannya identitas yang pluralis akan lebih dapat menentukan eksistensi kelompok tersebut yang mana setiap anggota memiliki kebebasan dalam menjabarkan identitasnya. Identitas adalah strategi. Ia adalah cara, bagaimana dapat dan mampu beradaptasi dengan kelompok lain sehingga ia dikenal memiliki daya adaptasi yang tinggi. Eksistemsi tentunya harus juga dibarengi oleh image yang elegant , ko-eksis, korespondesif terhadap eksistensi puak kesukuan lain terutama, puak kesukuan originalis di tanah rantau tersebut. Dalam corak dan tampilan kelompok komunitas prural, menjadi nyata apa yang kita fahami dalam bahasa bahwa terciptanya kongruensi antar puak-puak suku sejagat. Kita harus memandang aktifasi dan ekplorasi suku tertentu dalam tampilan dan wacana nasional(national entity), bukan semata mata wacana suku tertentu(tribes entity). Artinya, ditengah-tengah masyarakat yang berubah dengan berbagai persoalan yang ditimbulkkannya sebagai impak kemajuan teknologi dan jaman , maka perlu dilakukan eksploarsi dan pemerkayaan terhadap identitasnya. Hal ini ditujukan sebagai proses awal eksperimentasi terhadap kebakuan identitas dalam menjawab tantangan masyarakat yang sedang berubah. Ini Menjadi penting dan wajib sifatnya dilakukan oleh kelompok suku tertentu di manapun lokalitasnya eksis sebagai bagian teringerasi dari tanggung jawab indentitas tadi. Sisi yang paling indah, ketika upaya-upaya ini dilakukan tanpa memikirkan apalagi digagalkan oleh persoalan biaya sosial dan finasial yang harus dikorbankan. maka tentunya kita mulai menjadi faham bahwa dua hal ini mulai menjadi sesuatu yang terganggu bahkan tercederai akhir akhir ini.

Terlepas dari berbagai persoalan yang melilit dan super sulit, sesungguhnya kita memahami bahwa ada yang kurang maksimal dalam haL kebijakan, fasilitasi dan monitorinng terhadap sistem kultur dan sosial masyarakat kita yang memang hetero-pluralis tadi. Ada Berberapa persoalan utama mengapa insidensi-insidensi belakangan ini terjadi. Pertama : Pemerintah kurang memfaslitasi dan memberdayakan secara manusia terhap kelompok-kelompok suku yang berkembang di masing-masing daerah terutama, kelompok kelompok suku yang di organisasikan tidak dalam label agama tertentu, melainkan multy atau lintas agama. Ketika label agama menjadi kental, maka dikhotomi sosialpun akan semakin meningkat dan memarginalkan kelompok organisasi yang multy religi. Akibat lanjutannya adalah minimnya aktivasi dan program sosial yang bersifat pluralis-lintas religi. Kedua : kelemahan terjadi di tingkat internal suku-suku itu sendiri melalui cendikiawan dan penggerak personalitas yang ada di dalamnya. Karena Ketika puak-puak tersebut berdiri, maka yang terjadi hanya menjadi organisasi papan nama tanpa program dan aksi nyata yang jelas. Belum lagi, persoalan pembinaan internal jargonis dan aktualitas organisasi ditengah-tengah masyarakat . Ketiga : Kelemahan komuniksasi dan koordinasi lintas puak-puak suku dalam wadah atau forum tertentu . Pemimpin puak-puak yang ada masih kurang mampu membangun komunikasi dan kebijakan yang mampu membedakan antara kepentingan kelompok, termasuk perilaku peribadatan agamis di dalamnya , dengan batas nilai-nilai dan kepentingan pluralitas dan entitas kebangsaan. Bangsa ini seharusnya mampu memelihara keberanekaragaman suku dan budaya yang ada sebagai bagian integral dari indentitas bangsa dan budaya nasional. Menjadikannya sebagai daya tarik eklusif, keunggulan mutlak(absolute advantages) dalam industri kreatif dan parawisata nasional diatas pondasi sebuah bangsa yang ketal akan jati diri dan marwah kebangsaan.

Kita sangat menyayangkan bahwa belakangan kita harus menyaksikan fraksi bahkan konfrontasi yang kian eskalatif baik di kota kota besar maupun di daerah-daerah pelosok indonesia. Beberapa puak puak suku seperti kehilangan komunikasi dan ”rule of game” perihal hidup bermsayarakat apalagi berbangsa, hingga harus ”beradu” satu dengan yang lain. Simpul simpul sosial gagal menjaga keterkaitan(linkage) dan korepondensi satu dengan yang lain. Bersempena dengan semua ini, maka diselenggarakannya deklarasi dan inagurasi kepengurusan PMS(Partuha Maujana Simalungun) DPC kota batam periode 2010-2015 yang sekaligus juga penyelenggaraan pesta budaya rakyat ”MARSOMBUH SIHOL ” suku simalungun se antero batam, Dimana PMS ini akan menjadi sebagai salah satu Organisasi Massa(OrMas) di Kota ini, maka kami optimis PMS DPC kota batam akan dapat memperkuat identitas dan memelihara warisan budaya secara internal yang tentunya juga merupakan bagian dari asset budaya nasional.Secara external organisasi yang tidak kalah penting adalah mampu dalam hal membangun jaring perekat(binding network) dalam wacana komunal batam. PMS DPC kota batam yang multy religi, lintas agama, akan mampu dalam mengambil peranan dalam menjaga pluralisme dan korepondesnsi terhadap puak-puak/ormas-ormas lain di yang lebih dahulu atau yang akan muncul kemudian. Tujuan Kahirnya adalah tetap dalam kerangka pencipataan dan pemeliharaan situasi dan psikologi sosial bahkan terutama iklim investasi yang kondusif di kota kita tercinta, Kota Batam.

No comments: