Boras Pihir

Boras Pihir

Monday, November 29, 2010

STUDY BATAK


Erond L Manik, MSI PUSSI UNIMED, NS.
Dibawah ini sekilas saya berikan respon tentang diskusi yang sangat melaju pesat seputar nama 'BATAK' itu.
Pertama:
Berdasarkan sumber-sumber yang ada, terutama riwayat perjalanan pengelana asing saat berkunjung ke SUMATRA sejak abad ke 8 masehi, jelas sekali bahwa konsep 'batak' itu adalah kata yang dicptakan untuk menyebut orang pedalaman (inland society) yang uncivilized (Belum beradab). Nama ini terlontar dari masyarakat yang ada di pesisir pantai barat dan timur Sumatra Utara dan Aceh khususnya untuk menyebut orang 'liar di pegunungan'. Jadi, nama 'batak' itu, tidak lahir dari dalam orang yang mengaku batak sekarang tetapi justru dari luar mereka. Hal ini senada dengan pendapat Prof. Vedi dari ANU itu.
Kedua:
Berdasarkan penyelidikan kami, terutama manuskrip-manuskrip tua (catatan: tradisi tulis itu sedari dulu ada pada orang-orang pandai alias datu) pada kulit bambu atau sejenisnya, tidak ada menyebut nama 'Batak'. Penyelidikan Prof. Robeth Sibarani dan Prof. Uli Kozok pun tidak ada menemukan nama 'Batak' dalam tulisan-tulisan tua di tanah Toba sana. Hal ini mengindikasikan bahwa, sesungguhya nama itu tidak dikenal internal orang yang mengaku batak itu.
Ketiga:
Sebagaimana yang saya sebut dahulu di awal postingan ini, bahwa hingga saat ini, sumber tertua yang menyebut nama "Batak' yaitu " Bata, Batta" adalah Fernao Mendez Pinto tahun 1539. Hal ini ditulisnya sesaat ia tiba di Malaka dan mengunjungi Sumatra bagian Utara. Sebelumnya, Nicolo di Conti, menyebut nama "Batech' abad ke 15 masehi untuk menyebut orang pegunungan aceh tepatnya di Samudra Pasai (lhok Seumawe sekarang) dan Lamuri (banda Aceh sekarang). Dua konsep itu, Bata atau Batech adalah sama untuk menyebut orang yang tinggal dipegunungan yang disebut 'uncivilized' liar dan antropopagadis.
Keempat:
Silsilah siraja Batak itu ditulis pertama sekali oleh WH Hutagalung dan diterbitkan pada tahun 1926. Kemudian dirujuk dan ditulis secara sempurna oleh JC. Vergouwen dan jadilah semakin popular. Dalam kedua buku itu, jelas disebutkan bahwa Sub etnik 'Batak' sekarang ini berasal dari Pusuk Buhit yakni tempat turunya Siboru Deak Parujar yang menjadi ibu lelhur orang batak. Jelas ini adalah rekayasa WH. Hutagalung, untuk mempersatukan dan mensuperiorkan orang Toba. Tetapi celakanya, WH. Hutagalung tidak menyebut nama mereka sendiri yakni 'Toba'. dan justru lebih menerima mereka sebagai Batak' tanpa ada sebutan Batak Toba.
Kelima:
Teori Gelombang yang dicetuskan oleh Sarasin Bersaudara itu yakni Proto dan Deutro Malay memang saat ini sedang di koreksi kembali karena kebuntuan dalam menjawab kenapa kaum migrant itu melakukan migrasi. Namun demikian, teori ini dianggap masih yang paling benar karena belum ada teori yang dapat meruntuhkan pendapat sarasin bersaudara ini. Menurut teori ini,. Proto Malay di Indonesia adalah dicirikan oleh bentuk atap rumahnya yang menyerupai 'pelana'. Dengan demikian, Simalungun, Toba, Menancabo, Toraja, Dayak dll masuk dalam kategori Proto Malay ini.
Keenam:
Soal migrasi itu, pastilah alur migrasi dimulai dari pesisir pantai dan kemudian ke pegunungan. Hal ini terjadi mengingat peran penting dari sungai dan laut sebagai jalur pelayaran. Oleh sebab itu, bila siraja Batak adalah leluhur yang disebut asal muasal orang 'Batak' itu, darimanakah asal muasal siraja Batak'? ini menjadi pertanyaan penting untuk dijawab. Seandainya dijawab adalah ciptaaan dari Debata Mula Jadi Na Bolon, maka saya akan menampiknya, berapakalikah Tuhan menciptakan Manusia itu?. Jika, masing-masing etnis diciptakan oleh Debata-debata Mula Jadi Na bolon, berarti terdapat beberapa kali penciptaan manusia.
Logikanya adalah, kalaupun siraja batak itu adalah manusia riel (Nyata), maka pastilah ia melayari pantai-pantai dan sungai baru bermukim di pusuk buhit. Ini lebih logis dan jika begitu, maka seharusnya ia adalah orang pesisir. Jika ia masuk dari selat malaka maka, paling logis pertama sekali ia bermukim di ARCAT (Asahan) atau Batto Barra (Batubara) yang masih dihuni oleh orang SEMILONGAN di KATARAN (sebelah timur) DANAU TOBA.
Jika siraja batak itu masuk ke pegunungan melalui pantai barat (Barus), maka paling mungkin ia adalah orang MENANCCABO. Yang mau saya ketengahkan, adalah bahwa Siraja Batak itupun pada awalnya adalah orang pesisir yang terdesak ke pedalaman. Bisa jadi adalah dalam rangka mencari eksistensi.
Ketujuh:
Benar sekali bahwa satu generasi dalam perhitungan sejarah ataupun arkeologi bahwa satu generasi adalah 30 tahun. Jika meliirk tarombo orang Toba, dimana mereka sekarang adalah generasi yang ke-20, maka leluhur orang Toba baru ada sejak 600 tahun silam di pusuk buhit (Sianjur mula-mula) yakni abad ke-15 silam. Bila tulisan Dinasti Sui yang meriwayatkan 'Nakkur' telah berdiri pada abad ke-5, maka sesungguhnya Nakkur di Simalungun itu jauh lebih tua dari siraja batak.
Kedelapan:
Soal submarga-marga. Harus diingat bahwa tradisi bermarga itu baru ada setelah tahun 1930-an dimana dipertautkan satu-sama-lain. Hal mana adalah sejak dituliskan oleh WH. Hutagalung pada tahun 1926. Sama seperti konsep Dalihan Na Tolu yang baru ada dan dikenal di kalangan Batak Toba pada tahun 1950-an yang diadopsi dari Minangkabau. WH. Hutagalung memang orang yang piawai mencipta pertautan antar marga itu, yang pada saat mereka bermigrasi ke daerah lain, maka sub-submarga itupun dibawa-bawa dengan tetap merujuk kepada buku WH. Hutagalung.
Saya sendiri ragu terhadap tulisan WH Hutagalung, karena pada saat buku Tideman tuntas saya baca, maka saya menemukan konsep kosmologi dan kosmogony orang Simalungun yang 80 persen mirip dengan legenda pusuk buhit. Harus diingat bahwa, buku Tideman dicetak tahun 1921 dan buku WH. Hutagalung dicetak 5 tahun setelah pencetakan buku Tideman itu. Jadi, saya pikir WH. Hutagalung yang pensiunan wedana itu mencontoh apa yang ditulis oleh Tideman. Popularitas buku WH. Hutagalung adalah ditulis dalam bahasa daerah Toba, sedang buku Tideman hingga kini masih dalam bahasa Belanda. Untunglah beberapa orang Simalungun dijakarta menerjemahkan buku ini dan dari merekalah bahasa Indonesianya saya baca. Buku Tideman ini adalah etnografi pertama yang menuliskan lengkap tentang orang Simalungun.
Sayang sekali buku yang ditulis oleh Franz Wihelm Junghuhn yang dua jilid itu dengan judul 'Die Battalander auf Sumatra belum saya dapatkan. Buku ini adalah buku pertama yang melukiskan etnografi Toba dan topografi wilayah Tapanuli. Kemudian disusul oleh HN. Van der Tuuk.
Lihat Judul buku dari Junghuhn. DIE BATTA-LANDER, hal ini mengisyaratkan bahwa hingga tahun 1848 nama batak masih ditulis sebagai Batta. Sama halnya dengan Anderson yang menulis nama Batta. pada tahun 1823 dan sama halnya dnegan tuliosan Pinto tahun 1539 itu.
Kesepuluh:
Memang pada akhirnya adalah konsep mana yang diakui orang dan mana yang tidak sebagaimana yang disebut oleh bapak SP. Tetapi yang diinginkan bukan soal konsep mana yang diterima dan ditolajk, tetapi adalah apakah nama itu lahir dari internal batak itu sendiri atau justru di beri orang lain. Ini yang kita diskusikan.
Akhinrya, saya ucapkan terimakasih atas semua sumbangsaran yang masuk dalam diskusi kita ini. Hal sama kami haturkan kepada 'KOMUNITAS' yang terganggu dengan pers release kami kemarin itu. Apa boleh buat, kami akan tetap mempopulerkan hasil penelitian itu, minimal untuk konsumsi di internal kampus.
Saya sayangkan, ketika biro Posmetro di Siantar harus menerima dampak dari pers release kami itu. Tapi itu saya golongkan kepada tindakan 'NIR INTELEKTUAL". Kalau memang terganggu dengan release kami itu, maka seyogianya yang merasa terganggu harus melakukan penelitian yang setara dan metodologi yang sama dan paling tidak waktu yang relatif sama. Release itu ahknirnya muncul setelah penelitian dua bulan di arsip RMG Jerman dan KITLV Leiden.
Salam dan diatei tupa.
Er

No comments: