Boras Pihir

Boras Pihir

Monday, March 7, 2011

<--!more-->

Arsip untuk ‘Batu Ni Demban’

BATU NI APURAN

Januari 6, 2009

oleh: Muhar Omtatok

Dalam tradisi masyarakat Simalungun, mengenal adanya Bilangan tertentu untuk memberikan upah, cendera hati ataupun gaji. Ini berlaku baik untuk imbalan hasil sebuah kerja, ‘uang capek/uang rokok/uang kopi/bonus’, atau dalam tradisi adat lainnya dalam keseharian, dari dulu hingga kini.

Bilangan adat ini disebut Batu Ni Apuran. Ada pula yang menyebutnya dengan istilah Batu Ni Demban, Duit Partadingan atau Batu Ni Namalum.

Sudah menjadi adat turun temurun, Batu Ni Apuran memakai bilangan genap.

Kita contohkan saja, misalnya:

Paruma (Kawula, Rakyat) : 2, 4, 6, 8

Raja/Sipukah Huta: 12, 24, 48, 60, 120

Dewasa ini, tidak mungkin kita memberikan Rp. 2, Rp. 4 atau seterusnya. Karenanya, bilangan genap itu bisa kita bulatkan keatas sesuai kurs mata uang yang berlaku; misalnya: Rp. 2.000, Rp. 20.000.

Bilangan Ganjil

Sebenarnya, Orang Simalungun sangat mensakralkan bilangan ganjil. Angka tiga, contohnya. Konsep ini hampir berlaku untuk seluruh komunitas yang sering disebut Batak. Bilangan tiga mengambil peranan sentral dalam pandangan hidup kebatakkan, karena menyangkut keyakinan dan kepercayaan.

Bilangan ganjil lebih dianggap sebagai bilangan keberuntungan dan simbol harmoni, karena bilangan tersebut melambangkan kehidupan dan kerap diasosiasikan dengan hal-hal yang tidak kelihatan (seng taridah). Maka tidaklah mengherankan bahwa bilangan ganjil mempengaruhi kehidupan harian dan budaya Hasimalungunan.

Di Sisi lain, bilangan genap dimaknai sebagi bilangan penyeimbang. Manusia mempunyai dua tangan, dua telinga, dua mata, dua kaki, dua lobang hidung dan seterusnya. Hewan-hewan pun mempunyai organ-organ tubuh yang berjumlah genap. Tapi Bilangan genap, dimanai pula sebagai simbol pemborosan, disharmoni dan pembawa hangalan.

Tiga warna sakral, yaitu Putih, Merah dan Hitam. Tiga dimensi spiritual, yaitu Nagori Atas, Tongah dan Toruh. Filsafat kekerabatan, yaitu Tolu Sahundulan, Lima saodoran. Merupakan contoh klasik dalam penggunaan Bilangan Ganjil.

Mengapa Batu Ni Apuran Berbilangan Genap

Pada jumlah bilangan Batu Ni Apuran, kegenapan dijadikan penyeimbang dari hasil jerih payah. Kondisi ini merupakan simbol penghargaan si pemberi Batu Ni Apuran, bahwa si pemberi menghargai peran orang yang diberi Batu Ni apuran karena telah totalitas menggunakan mata, telinga, tangan, kaki dan lainnya, untuk membantu hingga upayanya berbuah kebaikkan.

Namun, pada saat pemberian sejumlah uang tersebut, belum disebut Batu Ni Apuran, Batu Ni Demban, Duit Partadingan atau Batu Ni Namalum, jika pada saat transasi; uang diberi begitu saja. Justru akan dianggap penghinaan si pemberi kepada orang yang diberikan.

Pada saat pemberian uang yang berjumlah genap itu, akan bermakna Batu Ni Apuran jika saat pemberian, uang diselipkan di dalam sirih dengan kelengkapannya. Sirih inilah yang turut dihitung sehingga Batu Ni Apuran berjumlah ganjil.

Tentu kondisi sekarang, menurut pendapat saya, bisa saja kita berinovasi untuk menggantikan sirih dan kelengkapannya, dengan amplop yang diberikan dengan hormat.

<--more-->

No comments: