Boras Pihir

Boras Pihir

Tuesday, April 12, 2011

AHAP SIMALUNGUN

Jansen Pardede dalam disertasinya di Universitas Mainz, Jerman, Die
Batakchristen auf Nordsumatra und ihr Verhaeltnis zu den
Muslimen,1975, mencatat bahwa marga adalah inti (religiositas) Batak.
Menurut beliau, marga menunjukkan asal muasal teritorial seseorang,
juga genealogi ataupun ikatan darah dan silsisah keluarganya. Dalam
ikatan marga tadi terbentuk suatu ritual, semisal dalam upacara
pendirian tugu marga-marga. Bahkan, dalam ikatan marga, orang Batak
juga bersumpah setia atau bersumpah serapah. Dalam jalur marga-marga
pulalah penurunalihan cerita dan hukum adat terjadi. Bahkan, kedudukan
sosial (dahulu) dan adat (sekarang) seseorang tergantung kepada marga
yang ia emban.

Dulu dengan bermarga Sinaga saja, seseorang sudah akan bisa bertahan
hidupnya sebab ia bisa minta dukungan ekonomi dari dongan sabutuhanya
sesama Sinaga dan bisa minta pelayanan ini-itu dari borunya yang
beristrikan marga Sinaga. Kini dalam pesta adat, seorang Batak
langsung menemukan tempat duduknya seturut dengan posisi marganya
dalam skema Tungku nan Tiga (Dalihan na Tolu, di Simalungun skema itu
bahkan disebut Tolu Sahundulan ‘Tiga Sekedudukan’), suatu kerangka
kerja yang biasa dipakai di setiap pesta Batak.

Di Simalungun sendiri pernah disinggung (semisal dalam catatan J.
Tideman, Simaloengoen: Het Land der Timoer-Bataks in zijn vroegere en
zijn ontwikkeling tot een deel van het cultuurgebied can de Oostkust
van Sumatra, Leiden, 1922) bahwa ikatan marga yang menyatukannya ialah
Sisadapur: Sinaga, Saragih, Damanik, Purba, dan Girsang. Lalu dalam
perkembangannya, marga-marga semisal Silalahi, Sipayung, Sitopu,
Lingga, Haloho pun diikutsertakan. Yang menarik, dalam perkembangan
mutakhir, identitas Simalungun semakin diletakkan pada ahap
Simalungun. Dalam Seminar Kebudayaan Simalungun tahun 1964 disimpulkan
bahwa halak Simalungun aima na marahap Simalungun ‘orang Simalungun
ialah siapa saja yang punya ahap Simalungun’.

Ahap Simalungun

Apa artinya kalau ahap (rasa) menjadi pengikat Simalungun? Tampaknya
catatan antropolog Clifford Geertz, dalam bukunya yang tersohor, The
Interpreation of Culture, 1973, bisa sedikit membantu. Geertz mencatat
bahwa bagi orang Jawa, tatanan simbolik amat penting. Pementasan
wayang, misalnya, adalah penyajian cerita yang penuh dengan makna
tersirat dan penonton selama berjam-jam harus menangkap makna seturut
dengan pencerapan dirinya sendiri. Keramaian perang para kesatria dan
kekonyolan para punakawan adalah simbol yang menunjuk ke dalam dunia
batin manusia, dan masing-masing orang Jawa harus menemukan siapa
dirinya setelah menonton wayang itu. Yang di luar (yang kasar dan
konyol) sesungguhnya perlu ditangkap dan dipahami dari yang batiniah
(yang halus dan yang di dalam) agar pesan dapat ditangkap. Di sini
tentu saja perlu rasa.

Rasa, demikian lanjut Geertz, berdimensi dua: perasaan (feeling) dan
makna (meaning). Sebagai perasaan, rasa adalah salah satu dari
pancaindra orang Jawa, yaitu melihat, mendengar, berbicara, membaui,
dan merasakan. Namun, orang Jawa menjadikan “rasa” sebagai porosnya:
citarasa sebuah pisang adalah rasa-nya, suatu firasat adalah suatu
rasa, kesakitan adalah suatu rasa, dan hasrat adalah juga sebentuk
rasa. Sebagai makna, rasa diterapkan pada kata-kata dalam suatu surat,
bahkan juga dalam suatu percakapan; makanya orang Jawa bisa bicara
lama tanpa perlu mengeksplisitkan maksudnya sebab yang perlu ialah
merasakan pesannya. Gerak tubuh pun dapat dirasakan pesannya, tak
perlu terang-terangan melotot atau mengepal tangan kalau sedang marah.

Ahap Simalungun tentu tak perlu persis seperti rasa dalam diri orang
Jawa walau ada singgungannya. Ahap Simalungun pertama-tama adalah
sinyal-sinyal emosi yang tertangkap di setiap percakapan ataupun
perjumpaan. Seorang Simalungun akan mudah merasakan apakah lawan
bicara punya rasa Simalungun dari cara bertuturnya dan dari
gerak-geriknya. Selalu ada yang tidak langsung di setiap kata yang
terucap, dan setengah mati rasanya bagi orang Simalungun untuk menaruh
tanda seru di akhir kalimatnya. Setengah mati pula orang Simalungun
dalam mengungkapkan diri dalam gesture tubuhnya. Percakapan Simalungun
ialah percakapan yang memohon dengan halus, bukan menyuruh dengan
tegas. Ada kehalusan yang kompleks dalam bertuturnya, ada pula
pengendapan yang bertakik-takik dalam batinnya. Ekspresi tubuh orang
Simalungun adalah ekspresi yang selalu mau menutup apa yang sempat
terungkap. Hampir-hampir ia tidak beringsut dari duduknya. Dalam
peribahasa Simalungun dikatakan bahwa setiap orang Simalungun punya
tujuh lapis pakaian, sekalipun ia tampak bertelanjang dada.

Ahap juga adalah sebentuk penghayatan (mangkagoluhkan ‘menghidupi’)
serat-serat kultur Simalungun, yang prinsipnya ialah Habonaron do
Bona, Sapangambei menoktok hitei. Artinya kurang lebih: Pangkal hidup
ialah bersikap benar dan adil, sambil bersama-sama membangun jembatan.
Setiap orang akan menjadi Simalungun kalau ia punya prinsip tadi,
namun diterapkan tidak dalam semangat eksklusif, tetapi inklusif sebab
yang terpenting ialah selalu ada penghubung yang terbangun antara satu
orang dengan yang lain.

Partuha Maujana Simalungun

Suasana ahap ini mewarnai pertemuan bersama komunitas pemangku adat
dan para tua-tua nan bijak Simalungun (Partuha Maujana Simalungun).
Pada 12 Agustus 2007 lalu, berkumpullah puluhan warga Simalungun dan
merancang sekaligus meneguhkan Program Kerja Partuha Maujana
Simalungun 2005-2010 (yang diusulkan oleh Ketua Darwan Madja Purba dan
Sekjen Syamsudin Manan Sinaga). Dan rupanya, yang dikerjakan terkait
dengan jatidiri Simalungun.

Pada pertemuan itu ditegaskan bahwa jatidiri Simalungun berarti “kita”
yang ber-ahap Simalungun, bukan lagi “kami” yang bermarga Sisadapur.
Maka, kalau kini Partuha Maujana Simalungun hendak menyusun program
kerja, maka ia pun bersuasana terbuka dan tidak parokial.

Tampaklah identitas baru: karena kesimalungunan tidak terutama
terletak pada marga-marga, namun dalam ahap, maka selanjutnya–ini yang
rupanya menjadi langkah lanjutan yang penting—karsa (program kerja)
haruslah pula menjadi bagian jatidirinya.

Barangkali makna etnisitas (juga makna Kebatakan) tergambar di sini,
bukan tentang yang surut di belakang, bukan tentang yang beku dan
primordial, tetapi tentang kebersamaan yang terbuka dan, akhirnya,
tentang strategi kerja di hadapan keseharian hidup kita semua.

No comments: